jump to navigation

Bencana, Renungan diri kepada Alam dan Tuhan February 14, 2014

Posted by orong-orong in Religi.
Tags: , ,
trackback

OrongOrong.com

KEBANYAKAN orang memandang, manusia adalah manusia dan alam semesta adalah alam semesta. Padahal, ada hubungan yang sangat erat dan penuh makna antara manusia dan alam semesta. Manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang memiliki ikatan abadi dengan seluruh dimensi alam. Seluruh bagian dan gerakan di alam memiliki hubungan satu dengan yang lain. Ada ikatan erat antara karakteristik dan fenomena-fenomena di alam ini.

Secara esensial, Bicara tentang manusia dan alam memiliki satu keterpaduan. Sebab, jika bicara soal alam adalah jagat dari diri manusia itu sendiri. Manusia adalah jagat kecil atau alam mikrokosmos dan alam semesta dalah makrokosmos. Manusia adalah satu-satunya makhluk di alam yang memiliki kapasitas untuk menyandang predikat khalifah Tuhan di muka bumi. Makhluk dengan kedudukan agung ini akan sangat merugi jika mencintai dunia secara berlebihan dan melalaikan posisi tingginya di jagad raya ini.

Allah berfirman kepada para malaikat ketika akan menciptakan Adam, ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. (Al-Baqarah:30). Banyak kaum muslimin yang keliru dalam memahami ayat ini, yakni sebagai wakil/pengganti Allah dalam mengurus bumi. Makna khalifah yang benar adalah kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi, demikian penjelasan dalam ringkasan Tafsir Ibnu Katsier

”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: ”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”. Tuhan berfirman: ”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”(Al-Baqarah:30)

Allah Ta’ala memberitahukan ihwal pemberian karunia kepada Bani Adam dan penghormatan kepada mereka dengan membicarakan mereka di al-Mala’ul Ala, sebelum mereka diadakan. Maka Allah berfirman, ”Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat”. Maksudnya, Hai Muhammad, ceritakanlah hal itu kepada kaummu”, ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”, yakni suatu kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, ”Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi” (Fathir: 39). Itulah penafsiran khalifah yang benar, bukan pendapat orang yang mengatakan bahwa Adam merupakan khalifah Allah di bumi dengan berdalihkan firman Allah, ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”

Berkaitan dengan firman Allah, ”Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya”, Seolah-olah malaikat memberitahukan kepada Allah bahwa apabila di bumi ada makhluk, maka mereka akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana. Perkataan malaikat ini bukanlah sebagai bantahan kepada Allah sebagaimana diduga orang, karena malaikat disifati Allah sebagai makhluk yang tidak dapat menanyakan apa pun yang tidak diizinkan-Nya.

Selain dari tugas manusia sebagai khalifah, manusia juga menjalankan tugasnya sebagai hambah Tuhan yang menciptakannya. Namun penting sebelum menjadi hambah manusia harus tahu apa yang dijalankan sebagai hambah Tuhan. Sebagai hambah sepatutnya menjlankan perintah dan menjauhi larangan-Naya.

Bahasa bijak mengatakan seebelum mengerjakan perintah dan menjauhi larangan Tuhan. Carilah Dia dan kenalilah bahwa Dia Tuhanmu. Manusia berusaha mengenal dirinya dan mengenal alam semesta. Ia ingin lebih tahu siapa dirinya dan bagaimana alam semesta. Dua jenis pengetahuan ini menentukan evolusi, kemajuan dan kebahagiaannya. Agama mengajak manusia untuk mengenal dirinya. Pokok-pokok ajaran agama adalah kenalilah dirimu agar engkau tahu Tuhanmu dan jangan melupakan Tuhanmu agar kamu tidak lupa akan dirimu. Imam Ali as mengatakan, “Semoga Allah merahmati manusia yang tahu asal-usulnya, tahu keberadaan dirinya, dan tahu hendak ke mana dirinya.”

Seorang arif berkata bahwa maksud dari mencari Tuhan bukanlah engkau menemukannya, tapi engkau harus menyelamatkan dirimu dari kelalaian dan mengenal dirimu sendiri. Pengenalan manusia merupakan sebuah jalan untuk mengenal Tuhan dan pada dasarnya, jalan mengenal Tuhan akan melewati gerbang pengenalan manusia itu sendiri. Imam Ali as berkata, “Barang siapa mengenal dirinya, maka sungguh dia akan mengenal Tuhannya”. Dengan kata lain, barang siapa yang telah mengenal dirinya tentang bagaimana makhluk yang rendah ini bisa menggapai kesempurnaan, maka ia akan mengenal Tuhannya. Sebab, manusia mengetahui bahwa selain Tuhan Yang Maha Kuasa, tidak ada makhluk lain yang bisa mengantarkannya dari segumpal mani menuju kesempurnaan.

Manusia dapat mengenal Tuhan dengan sifat Jamaliyah (keindahan) dan Jalaliyah (Keagungan) dengan cara tafakkur, perenungan, dan penyelaman terhadap dirinya sendiri. Imam Ali as berkata, “Barang siapa yang telah mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya dan karena ia telah mengenal Tuhan, maka ia telah sampai pada ilmu dan pengetahuan tentang seluruh keberadaan.”

Tujuan utama ilmu agama dan filsafat adalah mengenal manusia dan alam semesta serta hubungan keduanya dengan Sang Pencipta. Oleh sebab itu, pengenalan terhadap berbagai dimensi dan karakteristik manusia akan mendekatkan seseorang pada asal mula penciptaan dan tujuan dasarnya. Rasul Saw bersabda, “Orang yang paling tahu tentang dirinya, maka ia adalah orang yang paling mengenal Tuhannya.” Dikisahkan bahwa seorang sufi berkata kepada sahabatnya demikian, “Wahai Tuhan, kenalkanlah diri-Mu kepadaku.” Sementara aku berkata, “Wahai Tuhan, kenalilah aku pada diriku sendiri.”

Hubungan manusia dan alam semesta merupakan sebuah tema penting filsafat. Dengan kata lain, itu adalah sebuah masalah yang sangat esensial bagi manusia, dimana ia menyimpan potensi besar dalam dirinya. Mereka yang mengkaji tema-tema Ilahiyat dan ingin mengetahui hubungan antara makhluk dan khalik, atau mereka yang ingin mengenal dirinya sendiri dan juga orang-orang yang ingin mempelajari metode kehidupannya baik itu dalam dimensi individu, sosial atau bahkan universal, maka mereka akan berurusan dengan masalah manusia dan alam semesta. Jika masalah ini terpecahkan, kebanyakan dari problema umat manusia akan terselesaikan.

Simak bencana alam ada yang memang akibat mekanisme alam. Namun, tak tertutup kemungkinan ada pula bencana yang dipicu ulah manusia yang merusak lingkungan. Mungkin dengan niat yang baik, yaitu atas nama kemajuan atau kemakmuran, tapi akibatnya adalah kebalikannya. Berikut ini adalah beberapa contoh bencana alam yang terjadi akibat kecerobohan, ketamakan, atau minimnya pemahaman manusia terhadap lingkungannya.

Bencana bisa terjadi dimana-mana di suatu lokasi atau daerah tertentu, bahkan di belahan bumi tertentu. Demikian halnya dengan kerusakan yang dilakukan oleh perseorangan, kelompok, daerah tertentu bahkan negara tertentu. Allah swt telah menjadikan bumi ini untuk manusia sebagaimana firman-Nya, ”Dialah Allah yang menjadikan untukmu segala yang ada di bumi…”(Q.S.Al-Baqarah:29).

Kita baru menyaksikan bencana banjir hari ini Rabu (29/1/2014) wilayah Jabodetabek. Begitu besar terpaan banjir akibat hujan yang teerus mengguyur wilayah ini. Bekasi terkena banjir bandang merusak sebagaian rumah penduduk, terlebihnya yang berada di pinggiran kali.

Bencana banjir yang melanda Jabodetabek maupun di daerah lain sebenarnya merupakan sebuah teguran dari alam untuk diri manusia itu sendiri sebagamana teruraikan di atas

sumber ; di sini

salam kebo putih

Comments»

1. Kobayogas - February 14, 2014

Edisi Jumat
—-

Bertemu kerabatnya Honda CBR
http://kobayogas.com/2014/02/14/intermezzo-ini-dia-honda-vfr-1200/

orong-orong - February 14, 2014

renungan

2. rusman - February 14, 2014

introspeksi

orong-orong - February 14, 2014

betul kang

3. Wong Ndeso 94 - February 14, 2014
orong-orong - February 14, 2014

bersujud kepada Allah

4. belalangmerah - February 14, 2014
orong-orong - February 14, 2014

amin

5. athleteriders - February 14, 2014

bencana yang memang sudah waktunya

orong-orong - February 14, 2014

waktunya kita kuis

athleteriders - February 14, 2014

te lo le le lo le ngek ngek

orong-orong - February 14, 2014

wkwkwkwk

6. one08 - February 14, 2014

semoga bangsa Indonesia masih diberikan kesempatan memperbaiki diri untuk kehidupan yang lebih baik… amin!

orong-orong - February 14, 2014

amin, suwun kang

7. r6 - February 14, 2014

sudah waktunya kita berbenah diri untuk menuju alam akhirat
kao ngopo om rossi yo melu wae ….

orong-orong - February 14, 2014

kebanjiran ngono kok, wkwkwk

8. potretbikers - February 14, 2014
orong-orong - February 14, 2014

berdzikir

9. warungasep - February 14, 2014
orong-orong - February 14, 2014

amiiiiiiiiiin

10. Mase - February 14, 2014
orong-orong - February 14, 2014

lakhaulawalakuwatdailabillah

11. jackalride - February 14, 2014

“Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi”
“—dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya”.

________________________________________
Hujan abu malah nyari sotooooo
http://jackalride.wordpress.com/2014/02/14/kurang-kerjaan-edition-balada-nyari-soto-di-tengah-hujan-abu-vulkanik-jogja/

orong-orong - February 14, 2014

betul gan

12. dhanicsetio - February 14, 2014

smoga iki dadi renungan nggo semuanya

orong-orong - February 14, 2014

amin

13. ari - February 15, 2014

renungan….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: