jump to navigation

Cerita mudik 2017 yang paling menjengkelkan di pantura July 6, 2017

Posted by orongorong in : Otomotif, unik , trackback

Saat berada di posko mudik yamaha di alas roban

OrongOrong.com

Hello sobat semua, dimanapun anda berada. Lebaran tahun 2017 saya kembali mudik menggunakan sepeda motor / motoran dari jakarta ke daerah boyolali pinggir tepatnya perbatasan antara kabutapen boyolali dan juga sragen. Sebelumnya hampir 2 tahun biasanya mudik naik mobil kini mencoba naik motor lagi sekaligus mencoba ketangguhan yamaha aerox 155 vva dengan menggunakan oli X-ten XT-40 Matic plus review helm sircon flip up. Intinya ada endorse yang harus di review lah.

Saat mudik saya tidak sendirian karena di temani oleh keponakan, laki-laki tentunya yang jadi boncengers awalnya namun kalau saya capek bisa juga menggantikan sebagai pengemudi. Saat di perjalanan memang asyik banget mengendarai yamaha aerox 155 vva yang masih full standart hanya saja oli menggunakan X-ten XT-40 Matic saja lainya masih standart pabrik. Jalan pantura pun mulai menampakkan jalan yang lurus membentang serta lengangnya karena dalam keadaan malam hari. Sebenarnya bukan lengang namun lacara banget tidak menemukan macet sedikitpun karena waktu itu H-7 lebaran.

Istirahat di posko mudik yamaha 2017 di subah

Sebenarnya motor bisa di geber full thortle namun karena saya boncengan bawa nyawa orang jadi tak perlulah ngebut karena kita ingin selamat sampai tujuan dan keluarga di rumah menunggu hanya di panteng di angka 65-90 km/jam saja. Kenapa saya memilih jalan malam dari pada jalan siang? menurut asumsi saya kalau jalan malam jelas orang tidak terlalu banyak berlalu lalang di jalan karena sudah pada istirahat yang jelas tidak ada pasar tumpah ke jalan yang membuat kemacetan. hanya banyak bus dan truk saja musuhnya di jalanan ketika malam hari.

Cerita mudik dengan yamaha byson

Karena saat itu bulan puasa jelas tidak ingin meninggalkan puasa dong karena memang sudah kewajiban walau dalam keadaan perjalanan jauh kami berniat berpuasa. Alhasil di saat waktunya sahur kami tiba di kota brebes sekitar pukul 03.30 -an dan berjalan melambat di pinggir untuk mencari warung atau penjual makanan. Sebenarnya saya sudah tahu biasanya kalau beli makanan di saat seperti ini pembeli akan di palak atau di suruh bayar yang tidak wajar atau di buat mahal.

Mudik dengan motor kesayangan

Karena saya tahu maka saya tidak berniat untuk membeli makanan di tenda-tenda baru yang hanya ada di saat musim mudik lebaran karena jelas biasanya gak jualan kok jualan bagaimana rasanya dan bagaimana harganya juga tidak jelas. Jadinya mencari warung yang permanen alias yang menetap di rumah. Awalnya mencari rumah makan padang di daerah brebes di pantura ternyata tidak menemukan sepanjang jalan, kalaupun ada itu tutup. Waduh mumet bin njlimet nich kalau tidak menemukan tempat makan untuk sahur.

Ini dia sate termahal di dunia

Ya wis cari laternatif lain tidak harus warung padang setelah melihat-lihat ternyata ada warung sate permanen di rumahan, karena waktu imsak sudah mulai mengejar ya sudah terpaksa mampir di warung sate. Saya pesen sate kambing 10 tusuk dan tongseng 1 porsi sedangkan minumnya es jeruk dan esteh. Tidak lama kemudian datanglah makanan itu namun tidak ada tongsengnya ya sudah lah tak apa, sikat saja karena perut sudah lapar dan sudah mau masuk waktu imsak. Dan ini baru kejadian yang paling menjengkelkan saat mudik lebaran tahun 2017, apa itu?

Saat pembayaran saya panggil ibu yang jualan dan tanya berapa semuanya? saat itu saya juga lupa langsung mengeluarkan uang Rp.100.000 saya dan si ibunya bilang kalau semuanya Rp.70.000. Saya pun kaget bin mak jegagik ……….. tenan po ora iki. Ya sudah uangnya saya kasihkan dan benar di kembalikan Rp.30.000 saja. Dalam hati saya sambil nggrundel saat keluar warung, namun ibarat nasi sudah jadi bubur. Saat jalan pun hati masih seperti tidak terima dengan harga sate yang tidak enak dengan harga yang tidak wajar itu.

Membuktikan ketangguhan yamaha byson di bawa touring jakarta boyolali

Sebenarnya oke lah jika rasanya memang enak banget dan tiada duanya yakni sate 10 tusuk di hargai Rp.70.000, tapi yang ini rasanya tidak karuan. Jelas ini yang membuat saya tidak terima. Memang saya juga salah sich harusnya sebelum membeli tanya dulu berapa harganya namun karena kondisi tidak memungkinkan yakni sudah mau masuk waktu imsak jadi buru-buru. Inilah salah satu pengalaman menjengkelkan saya saat mudik, kenapa orang perantau harus di peras / di palak saat mudik.

Note ; bagi anda yang ingin makan di daerah pantura ada baiknya sebelum makan tanya dulu harganya jika ingin dapat harga yang lebih murah. Namun kalau gengsi ya monggo langsung sikat saja.

polisi-menilang-orang-mudik-tapi-dia-sendiri-tidak-tertib

space for ads

Comments»

1. tri_aja_gunung_kidul - July 9, 2017

Sak tusuk 7rb..jian ndanput tenan pakde..
wis itung2 fithah tp ra iklas kelkelkel ..
Si jack lintang cruser wingi dolan ora pakde..sajae upload gambar sapi blonteng boyolali

orongorong - July 10, 2017

ora mampir, mbuh piye karepe. ora ketemu



%d bloggers like this: